
Langkat – RohulREDMOL.ID | Peringatan Hari Kartini 2026 di Bank Rakyat Indonesia (BRI) Branch Office (BO) Stabat bukan sekadar rutinitas tahunan yang berhenti di seremoni. Di tangan Insan BRILiaN, momen ini justru menjadi panggung pembuktian: BRI benar-benar berada di barisan terdepan dalam memadukan budaya, profesionalisme, dan peran strategis perempuan.
Balutan kebaya yang dikenakan para pekerja perempuan bukan hanya simbol anggun, tapi representasi kekuatan. Di saat yang sama, pekerja pria dengan batik menegaskan identitas budaya yang tetap dijaga. Namun yang paling mencolok bukan tampilan—melainkan performa.
Di kantor BRI BO Stabat, Stabat, pelayanan tetap berjalan tanpa kompromi. Cepat, tepat, dan profesional. Tidak ada penurunan kualitas, tidak ada celah pelayanan. Justru sebaliknya, nuansa Kartini menghadirkan sentuhan humanis yang memperkuat kedekatan dengan nasabah.
Inilah pembeda. Di saat sebagian institusi masih terjebak pada seremoni simbolik, BRI BO Stabat menunjukkan standar berbeda—bahwa penghormatan terhadap Raden Ajeng Kartini harus diwujudkan dalam kerja nyata, bukan sekadar retorika.
Branch Office Head (BOH) BRI Stabat, Ramlan, menegaskan bahwa perempuan di BRI bukan sekadar pelengkap struktur, tetapi bagian penting dari kekuatan utama perusahaan.
“Semangat Kartini kami hadirkan dalam kinerja. Perempuan di BRI memiliki ruang, peran, dan kesempatan untuk berkembang serta berkontribusi maksimal,” tegasnya.
Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Di lapangan, perempuan BRI terlihat berada di garis depan pelayanan—mengelola, melayani, dan memastikan operasional berjalan optimal. Ini bukan simbol, ini realitas.
RohulREDMOL.ID menilai, BRI BO Stabat berhasil mengirim pesan tegas: emansipasi bukan slogan, tapi sistem yang berjalan. Kebaya hanyalah identitas, sementara profesionalisme adalah bukti.
Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi, BRI tampil sebagai institusi yang tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga memastikan kualitas tetap berada di level terbaik. Terdepan bukan sekadar klaim—BRI BO Stabat membuktikannya di lapangan.
Jurnalis : Agus Sidarta & Red
Editor : Zulkarnain Idrus
